Kamis, 24 Mei 2012

Sejarah Tari Barong

Barong Bangkal
Barong Landung
Barong Macan
Barong Ket



Barong Rangda



 Sejarah Tari Barong

Tari Barong adalah tarian khas Bali yang berasal dari khazanah kebudayaan Pra-Hindu. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.
     Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan, Barong Landung. Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap.
     Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan. Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong.
     Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa dipertunjukkan oleh masyarakat Cina. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam pertunjukan ini berbeda, yaitu cerita pertarungan antara Barong dan Rangda yang dilengkapi dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda.



Macam-macam Tari Barong :
    Barong Bangkal


Bangkal artinya babi besar yang berumur tua, oleh sebab itu Barong ini menyerupai seekor bangkal atau bangkung, Barong ini biasa juga disebut Barong Celeng atau Barong Bangkung. Umumnya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) oleh dua orang penari pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat atau saat terjadinya wabah penyakit menyerang desa tanpa membawakan sebuah lakon dan diiringi dengan gamelan batel / tetamburan


    Barong Landung


Barong Landung adalah satu wujud susuhunan yg berwujud manusia tinggi mencapai 3 meter. Barong Landung tidak sama dengan barong ket yg sudah dikomersialisasikan. Barong Landung lebih sakral dan diyakini kekuatannya sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan umat. Barong Landung banyak dijumpai disekitar Bali Selatan, seperti Badung, Denpasar, Gianyar, Tabanan.

    Barong Macan


    Sesuai dengan namanya, Barong ini menyerupai seekor macan dan termasuk jenis barong yang terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dipentaskannya dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan suatu dramatari semacam Arja serta diiringi dengan gamelan batel.




    Barong Rangda


    Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.



    Barong Ket


    Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.

Budaya tari barong
    Gaya hidup masyarakat Bali diungkapkan dalam tarian mereka. Tidak hanya kita belajar tentang agama orang Bali dari kreasi tarian mereka, tetapi juga kita dapat memahami aliran kegiatan budaya dan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Esensi dari budaya Bali adalah tari dan drama, yang diadakan selama festival kuil dan dalam upacara-upacara. Tarian dilakukan di hotel-hotel adalah sebagian kecil dari apa yang tari Bali yang ditawarkan. Tari Bali berjalan jauh ke belakang sejarah Bali yang ditulis dengan banyak warisan yang berasal dari Jawa.Tari memenuhi sejumlah fungsi tertentu: Ini mungkin sebuah saluran untuk mengunjungi dewa-dewa atau setan, para penari bertindak sebagai semacam hidup repositori. Ini mungkin sebagai selamat datang untuk mengunjungi para dewa. Di blog ini, saya akan membahas mengenai sedikit kebudayaan yang berasal dari Bali. Di bali, banyak sekai kebudayaan yang kita ketahui, saah satunya adalah tarian. Tarianpun banyak macamnya. salah satunya adalah tari barong. Barong merupakan sebuah karakter daam mitoogi Bali. Barong adalah raja dari roh dan melambangkan kebaikan. Dalam sebuah pertunjukkan biasanya barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Tari barong menceritakan sebuah pertarungan antara yang baik dan jahat. Tarian ini adalah contoh klasik dari daerah Bali yang menghasilkan sebuah mitos dan sejarah yang tercampur menjadi satu kenyataan. Barong adalah binatang purbakala melukiskan kebajikan dan Rangda adalah binatang purbakala yang maha dahsyat menggambarkan kebatilan.



Urutan dalam tari barong
Gending Pembukaan: Barong dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat. Kemudian muncullah tiga orang yang bertopeng menggambarkan tiga orang yang sedang membuat tuak ditengah-tengah hutan, yang mana anaknya telah dimakan oleh harimau. Ketiga orang itu sangat marah dan menyerang harimau : (Barong) itu dan dalam perkelahian ini hidung salah seorang dari ketiga orang itu digigit oleh kera.
     Babak Pertama : Dua orang penari muncul dan mereka adalah pengikut-pengikut Rangda sedang mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan untuk menemui patihnya.
     Babak Kedua : Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang dari pengikut Rangda berubah rupa menjadi setan (semacam Rangda) dan memasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti yang menyebabkan mereka bisa menjadi marah. Keduanya menemui Patih dan bersama sama menghadap Dewi Kunti.
     Babak ketiga : Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sadewa dan Dewi Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya Sadewa kepada Rangda tetapi setan (semacam Rangda) memasukkan roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti bisa menjadi marah dan tetap berniat mengorbankan anaknya kepada Patihnya untuk membuang sadewa kedalam hutan dan patih inipun tidak luput dari kemauskan roh jahat oleh setan itu sehingga sang Patih dengan tiada perasaan kemanusiaan menggiring Sadewa kedalam hutan dan mengikatnya dimuka Isatana Sang Rangda.
     Babak keempat: Turunlah Dewa Siwa memberikan keabadian hidup kepada Sadewa dan kejadian ini tidak diketahui oleh Rangda. Kemudian datanglah Rangda untuk mengoyak-ngoyak dan membunuh Sadewa tetapi tidak dapat dibunuhnya karena kekebalan yang dianugrahkan oleh Dewa Siwa. Rangda menyerah kepada Sadewa dan memohon untuk diselamatkan agar dengan demikian dia bisa masuk sorga. Permintaan ini dipenuhi oleh Sadewa. Sang Rangda mendapat Sorga.
     Babak kelima: Kelika salah seorang pengikut Rangda mengahadap kepada Sadewa untuk diselamatkan juga tetapi ditolah oleh Sadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian dan Kalika berubah rupa menjadi babi hutan dan didalam pertarungan menjadi burung tetapi tetap dikalahkan. Dan akhirnya kalika (Burung) berubah rupa lagi menjadi Rangda. Oleh karena saktinya Rangda ini maka Sadewa tidak dapat membunuhnya dan akhirnya Sadewa berubah menjadi Barong karena sama saktinya maka pertarungan antara Barong melawan Rangda ini tidak ada yang menang dan dengan demikian pertaruangan dan perkelahian ini berlansung terus abadi. Kebajikan melawan kebatilan. Kemudian mundullah pengikut pengikut Barong masing masaing dengan kerisnya yang hendak menolong Barong dalam pertarungan melawan Rangda. Mereka ini semuanya pun tidak berhasil melumpuhkan kesaktian Sang Rangda

    Makna dari Tarian ini adalah untuk mengusir roh-roh jahat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar